Translate

Minggu, 25 Desember 2011

Alergi Kehidupan

Alergi Kehidupan


Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah
bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya
berantakan. Usaha saya kacau. Apa
pun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin
mati." Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit." "Tidak
Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh
dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master
meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu
sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap
kehidupan." Sang Murid, sang guru memang benar.
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap
kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan
hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir
terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita
berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu
sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit.
Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir
bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya
usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal
berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang
wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng,
tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam
hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita
ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita
gagal, kecewa dan menderita.
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin
sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." demikian
sang Master. "Tidak Guru, tidak. Saya sudah
betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup."
pria itu menolak tawaran sang guru. "Jadi kamu tidak
ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" "Ya,
memang saya sudah bosan hidup." "Baik, besok sore kamu
akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol
diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam
enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan
tenang." Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master
yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk
memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini
aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia
memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan
senang hati. 

Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah
botol racun yang disebut "obat" oleh Master edan itu.
Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah
ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai!
Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan
terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia
memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di
restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia
lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir
malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai
banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan
membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu."
Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin
meninggalkan kenangan manis! Esoknya bangun tidur, ia
membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupanangin
pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk
melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam
kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa
membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir
kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya.
Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin
meninggalkan kenangan manis! Sang istri pun merasa
aneh sekali, "Sayang, apa yang terjadi hari ini?
Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan
setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss
kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung
berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu
adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kengangan
manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya
berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan
apresiatif terhadap pendapat - pendapat yang berbeda.
Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta
menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang
istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang,
sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku
selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak ingin
ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi
selalu stres karena perilaku kami." Tiba-tiba, sungai
kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup
menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk
bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol
yang sudah ia minum, sore sebelumnya ? 

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu,
rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah
terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau
sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian,
apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat
menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap
detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu,
kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan
mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan
jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah
rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah
jalan menuju ketenangan." Pria itu mengucapkan terima
kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang kerumah,
untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon,
ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup
dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia,
selalu tenang, selalu HIDUP!

1 komentar:

  1. Jadi jgn sia2kan waktu bersama orang2 yg kamu sayangi, menyayangimu, dan orang2 yg ada sekitarmu, karna mereka bs buat hidupmu lebih berwarna & lebih berarti....

    BalasHapus

Powered By Blogger